Menggali makna takdir Allah “antara yang Mubram dan Mu’allaq” menurut Dr. Muhsin Hariyanto, M.Ag
Pendahuluan
Konsep taqdir (takdir) merupakan salah satu pokok keimanan dalam Islam yang termasuk dalam rukun iman keenam, yaitu beriman kepada qadha dan qadar.
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (ketentuan).”
(QS al-Qamar [54]: 49)
Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta berjalan sesuai dengan ketetapan Allah. Namun, pemahaman terhadap taqdir seringkali menimbulkan persoalan teologis dan praktis: “apakah manusia sepenuhnya pasif di hadapan taqdir Allah, ataukah memiliki kebebasan untuk berusaha mengubahnya?”
Ulama menjelaskan bahwa taqdir terbagi menjadi dua jenis, yakni:
mubram (mutlak, pasti terjadi) dan mu‘allaq (tergantung pada sebab atau syarat tertentu). Pemahaman yang seimbang terhadap keduanya penting agar seorang Muslim tidak terjerumus pada fatalisme (jabariyyah) atau penolakan terhadap
kehendak ilahi (qadariyyah).
Tinjauan Konseptual: Qadha dan Qadar
Istilah qadha berarti keputusan atau ketetapan Allah yang telah pasti, sedangkan qadar berarti ukuran, batas, atau kadar yang ditentukan oleh Allah bagi setiap makhluk.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Ialah) engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”
Dari hadits ini jelas bahwa iman kepada qadar mencakup keyakinan bahwa semua yang terjadi berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah. Namun demikian, Allah juga memberi ruang bagi manusia untuk berikhtiar, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
“… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka
mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri …” (QS ar-Ra‘d [13]: 11)
Klasifikasi Taqdir: Mubram dan Mu‘allaq
1. Taqdir Mubram
Taqdir mubram adalah ketetapan Allah yang sudah pasti terjadi dan tidak dapat diubah oleh siapa pun. Ia merupakan bagian dari ilmu Allah yang azali dan tercatat di Lauh al-Mahfûzh. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa taqdir mubram
mencakup hal-hal yang menjadi kepastian mutlak, seperti ajal seseorang, jenis kelamin, dan peristiwa besar yang menjadi bagian dari kehendak universal Allah.
Dalilnya antara lain firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfûzh) sebelum Kami menciptakannya.” (QS al-Hadîd [57]: 22)
Ayat ini menunjukkan bahwa sebagian ketentuan Allah bersifat absolut dan tidak dapat berubah, karena sudah menjadi bagian dari kehendak ilahi yang sempurna.
2. Taqdir Mu‘allaq
Sebaliknya, taqdir mu‘allaq adalah ketetapan yang bergantung pada sebab atau amal tertentu. Dengan kata lain, Allah menulis dalam catatan-Nya bahwa sesuatu akan terjadi jika manusia melakukan sebabnya. Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani mencontohkan dengan sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam:
“Seseorang itu terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya, tidak ada yang menolak takdir selain doa dan tidak ada yang menambahi umur selain kebaikan.”
Hadits ini menjelaskan bahwa doa dan amal saleh dapat menjadi sebab perubahan kondisi yang telah ditetapkan secara mu‘allaq. Artinya, manusia tetap memiliki ruang untuk berikhtiar di dalam sistem ketetapan Allah yang Maha
Mengetahui segalanya.
Keseimbangan antara Ikhtiar dan Tawakal
Pemahaman terhadap kedua jenis taqdir ini menuntun kita untuk bersikap seimbang antara ikhtiar dan tawakal. Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan bahwa “tawakal yang benar adalah menggabungkan usaha lahir dengan penyerahan total kepada Allah dalam hasilnya.” Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh berpangku tangan dengan
alasan sudah ditakdirkan, karena Allah memerintahkan untuk berusaha.
Rasulullah shallallâhu ‘alaihiwa sallam bersabda:
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan
kepada Allah, dan jangan lemah.”
Makna hadits ini mengandung pesan moral bahwa keimanan terhadap takdir justru harus memperkuat semangat hidup, bukan melemahkannya. Taqdir adalah sistem ilahi yang memberikan ruang bagi usaha manusia di bawah kehendak Allah.
Dimensi Filosofis dan Spiritual
Dari perspektif filsafat Islam, taqdir mencerminkan harmoni antara kehendak Tuhan dan kebebasan manusia. Al-Farabi dan Ibn Sina menafsirkan qadar sebagai prinsip kausalitas universal yang tidak meniadakan kebebasan manusia, karena kebebasan itu sendiri merupakan bagian dari sistem kehendak Allah. Secara spiritual, pemahaman terhadap taqdir melahirkan ketenangan batin (ithmi’nân). Orang yang beriman kepada takdir tidak mudah berputus asa dalam kesulitan, karena yakin bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Allah dengan
hikmah. Seperti firman-Nya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” (QS al-Baqarah [2]:
216)
Kesimpulan
Konsep taqdir mubram dan taqdir mu‘allaq memberikan keseimbangan antara keimanan kepada kehendak Allah dan tanggung jawab manusia untuk berusaha. Taqdir mubram menegaskan kekuasaan mutlak Allah, sementara taqdir mu‘allaq menunjukkan keadilan dan kasih sayang-Nya dengan memberi ruang bagi manusia untuk berdoa, beramal, dan berikhtiar. Dengan memahami keduanya secara proporsional, seorang Muslim akan memiliki pandangan hidup yang dinamis: yakin terhadap ketetapan Allah, namun tetap berusaha keras mencapai kebaikan.
Itulah bentuk iman aktif yang menjadi ciri orang beriman sejati. Konsep taqdir dalam Islam merupakan wujud kebijaksanaan dan keadilan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam mengatur seluruh makhluk-Nya. Pemahaman terhadap dua jenis taqdir — yakni: mubram (pasti dan tidak berubah) serta mu‘allaq (bergantung pada sebab dan amal) — menunjukkan keseimbangan antara kehendak Ilahi dan kebebasan manusia. Taqdir mubram menegaskan kekuasaan mutlak Allah atas segala sesuatu, sedangkan taqdir mu‘allaq membuka ruang bagi manusia untuk berikhtiar, berdoa, dan beramal saleh. Dengan demikian, iman kepada takdir tidak meniadakan usaha, tetapi justru memperkuat semangat untuk berbuat baik sambil menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Pemahaman yang benar terhadap takdir akan melahirkan ketenangan spiritual, keteguhan dalam menghadapi ujian, serta sikap optimis dalam berikhtiar. Seorang Muslim sejati meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin Allah, namun ia tetap berusaha maksimal—karena ikhtiar adalah bagian dari iman, dan tawakal adalah puncaknya.
Wallâhu a’lamu bish-shawâb
Komentar
Posting Komentar