Rahasia Ketenangan Hidup Lewat Tawakal kepada Allah oleh Dr. Aang Kunaepi M.Ag



Lelah karena rencana hidup selalu berantakan? Mungkin kita melupakan satu hal yang sangat penting. Kita harus membiarkan Allah mengatur segalanya. Oleh karena itu, mari temukan rahasia ketenangan batin yang sejati. Memprioritaskan tawakal kepada Allah adalah kunci hidup bebas dari kecemasan.

Manusia modern sering mengatur jadwal, karier, dan relasi secara detail. Sayangnya, pola pikir ini tanpa sadar masuk ke ranah spiritual. Kita memang rajin menjalankan ibadah setiap hari. Namun, kita kerap menyelipkan ekspektasi pribadi di dalam doa.

Kita selalu berharap Allah mengabulkan doa sesuai skenario kita. Akibatnya, kegelisahan muncul saat realitas meleset dari rencana semula. Padahal, inti ajaran keislaman adalah penyerahan diri secara total. Sebagai hamba, kita tentu tidak berhak menjadi pengarah takdir.

Terkait hal ini, Allah SWT memberikan peringatan yang sangat jelas:

وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Ayat suci ini membongkar ilusi kontrol yang manusia miliki. Pengetahuan kita pada dasarnya sangat terbatas dan bersifat parsial. Sebaliknya, pengetahuan Allah mencakup seluruh alam semesta tanpa celah. Karena itu, pemahaman tentang arti tawakal menjadi sangat esensial.

Memahami Hikmah Berserah Diri

Sikap tunduk kepada Tuhan bermula dari Islam atau wujud ketaatan. Selanjutnya, sikap ini naik menuju Iman atau keyakinan yang kuat. Puncaknya adalah Ihsan, yakni kesadaran batin yang utuh. Kita menyadari bahwa Tuhan mengatur segala sesuatu dengan penuh hikmah.

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا

“Dan bertawakkallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (QS. Al-Ahzab: 3)

Ayat tersebut menegaskan pentingnya sikap berserah diri. Sikap tawakal kepada Allah membuktikan penerimaan hati kita secara tulus.

Sayangnya, esensi doa pada masa kini sering berubah bentuk. Doa sering bergeser menjadi instruksi langsung kepada Tuhan. Kita seolah mendikte waktu dan cara pengabulan doa tersebut. Tentu saja, hal ini sangat melanggar adab seorang hamba.

Rasulullah SAW memberikan sabdanya untuk meluruskan kekeliruan ini:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

Artinya: “Doa setiap kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata: ‘Saya sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.” (HR. Bukhari, no. 5981)

سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ رَبِّي فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي

Artinya: “Aku mendengar Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Doa seseorang dari kalian akan senantiasa dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa hingga mengatakan, Aku telah berdoa kepada Rabb-ku, namun Dia belum juga mengabulkan untukku.

Panduan Khusus: Doa Istikharah:

Setiap doa pasti memiliki bentuk pengabulan tersendiri dari Tuhan. Terkadang Tuhan menyegerakan, menunda, atau bahkan mengganti doa kita. Untuk memetik hikmah berserah diri, kita butuh panduan khusus. Panduan adab tersebut sangat jelas terlihat di dalam doa istikharah :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَاسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku memohon kekuatan kepada-Mu (untuk memutuskan urusanku dan mengatasinya) dengan Kemahakuasaan-Mu. Aku memohon kepada-Mu kebaikan dari karunia-Mu yang agung, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui, sedang aku tidak mengetahui dan hanya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui hal yang ghaib.

Ya Allah, apabila (menurut pengetahuan-Mu) Engkau mengetahui bahwa urusan ini (hendaknya disebutkan urusannya) lebih baik bagiku dalam urusan agamaku, penghidupanku, dan akibatnya bagi akheratku atau -Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: .duniaku dan akhiratku-, maka takdirkanlah untukku, mudahkanlah jalannya, kemudian berilah berkah untukku.

Akan tetapi apabila (menurut pengetahuan-Mu) Engkau mengetahui urusan ini berdampak buruk bagiku dalam urusan agamaku, penghidupanku, dan akibatnya bagi akheratku, atau -Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:….duniaku atau akhiratku-, maka jauhkan urusan tersebut dariku, dan jauhkan aku darinya, takdirkan kebaikan untukku dimana saja kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku ridho dengan takdir tersebut.” (HR. Al-Bukhari no.1162,6382 dan 7390)

Meraih Kedamaian Melalui Sikap Sabar dan Ridha

Al-Qur’an merekam kisah menarik antara Nabi Musa dan Nabi Khidir. Awalnya, tindakan Nabi Khidir tampak sangat keliru secara logika. Meskipun demikian, Allah mengungkap hikmah besar di akhir perjalanan.

ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَلَيْهِ صَبْرًا “Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (QS. Al-Kahfi: 82)

Keterbatasan pandangan sering mendorong manusia menilai takdir secara sepihak. Padahal, hikmah sering kali tersembunyi manis di masa depan. Oleh sebab itu, kita wajib bersabar menghadapi setiap ketetapan-Nya.

Sikap ridha adalah puncak kedewasaan spiritual seorang Muslim sejati. Hal ini ditegaskan dalam hadis berikut:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Melalui sikap ridha, krisis pasti berubah menjadi sarana pendidikan. Kegagalan pun beralih wujud menjadi pengarahan ke jalan benar. Saat rencana kita hancur, rencana Allah justru sedang bekerja. Biasanya, Tuhan menutup pintu agar kita terhindar dari bahaya.

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيرٌ

“Bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

Selanjutnya, ubahlah pertanyaan protes menjadi pertanyaan yang sarat makna. Kita harus mengganti “Mengapa ini terjadi?” menjadi “Apa hikmahnya?”. Perubahan ini menandai pergeseran positif dari ego menuju iman.

Sebenarnya, tawakal kepada Allah merupakan wujud ikhtiar yang maksimal. Selain itu, ia juga menghadirkan ketenangan dalam menyikapi hasil.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159)

Kecemasan manusia selalu bersumber dari ilusi kontrol atas dunia. Sebaliknya, ketenangan sejati selalu lahir dari kepasrahan kepada-Nya.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Penutup

Pada akhirnya, adab tertinggi hamba adalah tidak mendikte takdir Tuhan.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِم وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلُّلًا مُّبِينًا

“Tidaklah pantas bagi mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Oleh karena itu, mari kita senantiasa mempraktikkan ketundukan ini. Kita bisa mengevaluasi hikmah peristiwa dan memperbanyak zikir harian. Selain itu, kita wajib memperbanyak syukur dan mengurangi keluhan. Sungguh, hidup ini adalah ladang kepatuhan, bukan panggung ego.

مَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُةٌ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِةٌ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرٌ

“Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 3)

Jadi, biarlah Allah yang mengatur kehidupan kita secara utuh. Penerapan tawakal kepada Allah niscaya menyulap kegelisahan menjadi keyakinan abadi. Karena ketika Tuhan mengatur segalanya, tidak ada ketetapan-Nya yang sia-sia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ratib al Haddad

Terjemah Alhikam Syekh Ibnu Athaillah

Islam Kaffah